Friday, July 31, 2009

"Perawan Cantik" dari Utara

Berbeda dengan kawasan selatan, wilayah laut utara Jawa tak identik dengan wisata. Kalaupun ada titik-titik yang dijadikan tempat wisata, pemandangan yang ditawarkan tetap tak seindah kawasan laut selatan. Seperti itu juga kondisi wisata laut di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pesisir Indramayu tidak memberikan tawaran serupa pantai di Kabupaten Sukabumi atau Garut yang sama-sama termasuk wilayah Jawa Barat. Bahkan, pesisir sering kali merupakan daerah kantong-kantong kemiskinan yang ditandai dengan rumah-rumah dan lingkungan yang kumuh.

Namun, kunjungilah Pulau Biawak. Pesona alam merupakan anugerah Tuhan bagi pulau yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pantai utara Indramayu ini. Airnya bening dan pasirnya putih seperti kebanyakan pantai di kawasan selatan. Daratan seluas 120 hektar ini juga kaya dengan tanaman bakau yang hijau dan rapat dipandang dari ketinggian.

Sedikitnya ada dua nama lain yang lazim digunakan untuk menyebut Pulau Biawak, yakni Pulau Rakit dan Pulau Menyawak. Karena itu, Anda tak perlu berdebat ketika orang menyebut nama selain Pulau Biawak. Petugas menara suar yang tinggal di sana, Slamet Riyanto, mengatakan, sebelumnya ada lagi sebutan untuk Pulau Biawak, yakni Pulau Bompyis, yang merupakan nama warisan penjajah Belanda. "Kalau tidak salah, nama Pulau Rakit diubah menjadi Pulau Biawak pada tahun 1980-an," kata Slamet yang bertugas di sana bersama seorang temannya.

Tulisan nama Bompyis masih tersisa pada papan di ruangan genset—alat yang bisa menghasilkan listrik. Genset itu digunakan untuk penerangan permukiman petugas dan, terutama, untuk menyalakan lampu suar. Lampu penunjuk arah bagi para pelaut itu terletak pada menara setinggi 65 meter. Bangunan tersebut juga merupakan "warisan" Belanda, yakni dibangun pada tahun 1872. Di bagian dalam menara, yang berbentuk silinder, terdapat tangga memutar dengan keseluruhan anak tangga berjumlah 240. Butuh keberanian untuk menaiki tangga tersebut. Namun, jika berhasil mengalahkan rasa takut dalam diri Anda, di puncak menara Anda akan menemukan pemandangan hutan bakau dan laut yang memesona.

pantai perawan

Para pencinta pantai sering kali berkhayal bisa singgah di sebuah pulau di tengah laut dengan suguhan pemandangan yang 'menjanjikan surga dunia'. Bukan hanya bebas berenang, tapi juga leluasa berjemur, bermain kayak, bahkan menikmati bola raksasa hangat yang tenggelam di balik punggung bumi. Kecipak senja dengan buaian angin pantai selalu menyergap, membius untuk tinggal lebih lama di bibir pantai.

Kemewahan pantai dan langit dengan semburat keunguan itu bisa Anda jumput di Pulau Um. Pulau di Distrik Makbon, Sorong, Papua Barat, ini menjadi salah satu tujuan yang wajib Anda sambangi jika berada di wilayah paling timur Indonesia. Eits. Jangan bergidik mendengar kata 'pulau'. Pulau Um terbilang kecil, bahkan Anda hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mengelilingi pulau ini dengan bertelanjang kaki.

Hanya satu yang bisa dijanjikan dari kunjungan ke Pulau Um ini, yaitu ketenangan ala pantai perawan yang natural dan kekayaan alam yang sesungguhnya tak ingin bersembunyi dari sentuhan para pendatang.

Jika Anda suka menyelam, jangan lupa untuk membawa perlengkapan selam Anda. Pasalnya, Pulau Um akan memanjakan indera Anda dengan suguhan beragam ikan karag, penyu, lola, teripang, lobster, dan indahnya karang yang terpahat alami.

Nikmati indahnya panorama bawah laut Pulau Um yang sangat menarik lantaran sistem sasi laut yang diterapkan warga Kampung Malaumkarta. Sasi laut adalah larangan untuk menangkap jenis fauna laut tertentu di sebuah kawasan dalam jangka waktu tertentu yang disepakati oleh masyarakatnya.

Asal tahu saja, Kampung Malaumkarta yang berada berhadapan dengan Pulau Um ini berperan besar menyumbang keindahan alam bawah laut Pulau Um. Masyarakat yang hidup di sekitar Pulau Um dan Kampung Malaumkarta hidup sebagai nelayan dan memiliki kesadaran untuk menjaga hasil laut. Dengan adanya larangan untuk menangkap ikan dengan jala dan bom, nelayan hanya mendapatkan ikan dengan cara memancing.

Pulau ini sering digunakan oleh nelayan sebagai tempat singgah saat mereka mencari ikan. Jika sedang beruntung bertemu nelayan yang singgah, Anda bisa mencicipi kenikmatan ikan segar bakar yang fresh from the ocean. Biasanya nelayan di sini bersedia menjual sebagian hasil tangkapan mereka. Seekor ikan tengiri atau bubara cukup untuk porsi empat orang bisa anda tebus dengan lembaran Rp 20.000.

Di Pulau Um ini, Anda juga akan mendapati ribuan kelelawar yang menjadikan pulau ini sebagai habitatnya. Kawanan kelelawar ini hidup bergantungan di atas pohon. Tangkap kesempatan selagi bisa menikmati kelelawar yang terbang berkelompok dan hinggap dari satu pohon ke pohon lain.

Rasanya terlalu sayang untuk melewatkan Pulau Um yang berkolaborasi kompak pasir putih dengan airnya yang teduh berwarna kehijauan, kicauan burung yang bersahutan, tebaran kelelawar terbang mencari makan, dan torehan semburat jingga di barat yang menuai pendar keemasan di hati. Benar, Pulau Um adalah jawaban dari kemewahan yang ingin dicecap oleh para pecinta pantai.

Bisa jadi, Anda akan merasa menjadi penemu Pulau Um. Pasalnya, pantai ini tak riuh seperti pantai-pantai lain yang sarat dengan gelak tawa para penikmatnya. Sebaliknya, pantai ini sangat tenang; lagi pula belum banyak yang mengetahui harta karun keindahan di pulau ini.
KOMPAS.com

sebuah pulau perawan

Sekian lama Pulau Bawean yang masih perawan dan kencur tanpa ada tegur sapa dan sepi. Pulau Bawean ramai disaat hari raya idul fitri, yaitu warganya sama-sama mudik pulang kampung. Bawean tetap utuh dan tersenyum dengan keindahan yang dimiliki tanpa ada seorangpun yang mau memanfaatkan potensinya.
Pulau Bawean kini menjadi ikon dan kebanggaan bagi semua orang, khususnya yang merasa dilahirkan atau keturunan orang Bawean. Pulau Bawean kian diingat menjadi sejarah dalam hidup mereka. Setelah berkunjung, maka dipastikan pada saat akan datang kembali berkunjung ke Pulau Bawean.
Bawean semakin ramai dikunjungi semua orang, dibuktikan tiket kapal selalu habis terjual laris manis. Dilihat dari penumpang kapal, ternyata bukan orang Bawean saja yang berkunjung. Ada banyak orang luar yang kagum dengan Bawean, buktinya bahasa diatas kapal bila didengarkan seperti es campur.
Bila ingin melihat Pulau Bawean perawan dan alami sekarang saat berkunjung yang tepat. Pulau Bawean tidak pernah dipoles untuk lebih indah dan tidak pernah dilipstik untuk lebih menarik. Semua pemandangan dan pesona alamnya masih alami dan tidak pernah mendapatkan keperdulian pemerintah untuk menjadi objek wisata. Maka pemandangan di Pulau Bawean adalah proses alamiah, bukan sekedar basa basi.
Seandainya pemerintah berani mengembangkan obyek wisata yang ada di Pulau Bawean, maka ikon wisata di Indonesia akan terfokus ke titik kecil dalam peta Indonesia. Pulau Bawean akan maju dan terus berkembang sesuai harapan dengan memanfaatkan obyek wisata yang ada. Apakah obyek tersebut akan dibiarkan saja tanpa ada perhatian untuk dikembangkan? Alangkah mubazirnya obyek yang ada dibiarkan sampai menjadi perawan tua.
Kurang apalagi untuk membuktikan kepada penguasah bahwa Pulau Bawean sangat layak untuk dijadikan obyek wisata? Semoga kunjungan Persatuan Bawean Singapura (PBS) nanti dapat mempromosikan potensi Pulau Bawean kepada semua orang. Termasuk membuka hati para penguasah untuk segera menjadikan Pulau Bawean ikon wisata di Jawa Timur.
bst@pulau-bawean.blogspot.com